Sukhothai, Bangkok, Sempaja

Udondarome School Sukhothai, Suvarnabhumi Airport Bangkok, Stadion Sempaja Samarinda.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Saturday, 23 July 2016

Peterhof (Semalam di Saint Petersburgh Bagian 2)



Menuju Peterhof
Untuk menuju Peterhof, kami harus berganti kendaraan sebanyak dua kali, yaitu метро (baca: metro) kemudian berganti маршрутка (baca: marshrutka). Pertama-tama kami naik metro dari stantsiya Площадь Восстания (baca: Plosyad Vosstaniya) menuju Автово (baca: Avtovo). Dari stantsiya Plosyad Vosstaniya menuju Avtovo, kami melewati 6 pemberhentian, yaitu Владимирская (baca: Vladimirskaya), Пушкинская (baca: Pushkinskaya, Технологический Институт - 1 (baca: Tekhnologiceskiy Institut), Балтийская (baca: Baltiyskaya), Нарвская (baca: Narvskaya), dan Кировский Завод (baca: Kirovskiy Zavod). Perjalanan dari Plosyad Vosstaniya ke Avtovo ditempuh sekitar 17 menit.



Berbeda dengan metro di Moscow yang hanya menerima pembayaran dengan kartu yang dapat dibeli di stasiun metro, di Saint Petersburg, pembayaran dapat dilakukan dengan membeli koin atau kartu. Untuk sekali jalan kita perlu 1 koin seharga RUR 35. Sedangkan kartu harganya RUR 60 untuk 1 kartu kosong, sehingga kita harus mengisi dengan sejumlah uang sebelum dapat menggunakan kartu tersebut. Jika kita menggunakan kartu, untuk sekali jalan nilai uang yang ada di kartu akan terpotong RUR 33. Sekali jalan berarti sekali masuk stantsiya, walaupun berganti metro, asalkan tidak keluar dari dalam tanah, maka dianggap sekali jalan.
Setelah sampai di stantsiya Avtovo kami keluar dan menunggu marshrutka dengan kode K-424, yang tempat pemberhentiannya terletak di seberang stantsiya Avtovo.
Apa marshrutka itu? Marshrutka adalah angkutan umum semacam angkot di Indonesia, yang membedakan adalah bentuk kendaraannya. Kendaraan untuk marshrutka cukup tinggi, sehingga penumpang keluar masuk tidak perlu menunduk. Marshrutka berisi 15 orang penumpang dengan jarak antar tempat duduk cukup lapang untuk ukuran orang Indonesia. Pembayaran di marshrutka dilakukan dengan uang “cash” langsung ke sopir dan besarnya tergantung tujuan kita. Dari stantsiya Avtovo ke Petergof, tarifnya RUR 70 per orang.

Jarak Stantsiya Avtovo ke Peterhof sekitar 30 km dan dapat ditempuh dalam waktu sekitar 30 menit. Suasana pagi itu di Petergof hujan gerimis, namun demikian tidak menghalangi para turis dari berbagai negara untuk datang. Banyak turis dalam rombongan-rombongan kecil mengikuti pemandu mereka yang membawa bendera kecil. Ada yang dari Asia Timur entah itu dari China, Jepang, atau Korea. Ada pula dari yang dari Eropa.
Peterhof
Peterhof terletak sekitar 30 km dari pusat kota Saint Petersburg. Dengan jumlah penduduk hanya sekitar 74 ribu jiwa, Peterhof terkenal sebagai “host of” Saint Petersburg State University. Selain itu terdapat pula pabrik jam terutua di Rusia, yaitu Petrodvorets yang berdiri pada tahun 1721 serta yang paling menarik wisatawan adalah kompleks istana Peterhof.
Istana Peterhof terdiri dari bangunan-bangunan bersejarah dan taman alami yang yang sangat luas serta berjarak kurang dari 100 meter dari bibir pantai teluk Finlandia. Istana Peterhof terdiri dari Grand Palace, Peterhof Park and Garden, The Fountain of Peterhof, Monplaisir, Marly Palace, Peterhof Harmitage, Cottage Palace & Alexandria Park, dan lain-lain.
Untuk masuk ke kompleks istana Peterhof, pengunjung dikenakan biaya RUR 700 untuk umum dan RUR 350 untuk mahasiswa/pelajar.
Setelah membeli tiket, kami menuju pelataran Grand Palace. Walaupun masih pagi dan cuaca mendung bergerimis, wisatawan sudah memenuhi area ini, mereka menunggu diperdengarkannya musik pembuka bersamaan dengan dimulainya pertunjukan air mancur yang muncul di sela-sela patung berwarna kuning keemasan. Di depan Grand Palace memang terdapat sungai kecil yang menghubungkan pusat air mancur dengan teluk Finlandia. Di beberapa tempat di sungai kecil tersebut dibangun jembatan, sehingga pengunjung dapat menyeberang atau sekedar melihat air mancur dari kejauhan.
Tepat pukul 10.00 terdengar alunan musik klasik sekaligus pertanda pertunjukan air mancur dimulai. Pengunjung berebut untuk mengabadikan suasana tersebut sampai tidak terlihat tempat kosong di seputaran air mancur, sepanjang sisi kiri dan kanan sungai, hingga jembatanpun penuh dengan wisatawan.

Setelah suara musik berhenti dan sebagian besar pengunjung meninggalkan daerah sekitar air mancur di Grand Palace, kami pun pergi menyusuri tepian sungai untuk menuju pantai. Pantai di Istana Peterhof menghadap laut Baltik, yang berarti sudah cukup “dekat” dengan wilayah kutub utara.
Ternyata di pantai, tepatnya di teluk Finlandia banyak bersandar kapal-kapal wisata dan kapal-kapal penumpang dengan rute Peterhof – Saint Peterburg.
Setelah dari pantai, kami kembali menyusuri tepian sungai kembali melihat air mancur di Grand Palace yang kami kira mulai sepi, ternyata tidak. Suasana tetap ramai, walaupun hujan gerimis sebentar turun, sebentar berhenti.
Kemudian perjalanan, kami lanjutkan menyusuri taman kecil ke arah kiri, di mana terdapat patung yang cukup menarik walaupun kami tidak mengerti artinya.
Kembali perjalanan kami teruskan menuju The Fountain of Peterhof, yaitu sebuah air mancur yang airnya keluar dari patung Peter the Great yang sedang bertarung melawan buaya, apa maksudnya? Kami sendiri juga tidak mengerti, mungkin lain kali bisa di googling ya.

Berikut beberapa foto yang sempat kami ambil sambal berjalan keluar komplek istana Peterhof, sehari rasanya tidak cukup untuk mengelilingi kompleks istana yang begitu luas. Namun apa daya, badan rasanya sudah capek, apalagi selama perjalanan Moscow – Saint Peterburg tidur tidak nyenyak.
Penginapan
Setelah dirasa cukup, kamipun kembali ke Saint Petersburg, kali ini kami meluncur ke penginapan yang telah kami pesan beberapa hari sebelumnya. Dari Peterhof, kami kembali menggunakan angkutan Marshrutka dengan kode K-424 menuju stasiun metro Avtovo. Dari stasiun metro Avtovo, kami menuju stasiun metro Admiralteyskaya. Setelah melewati 4 stasiun, yaitu Kirovskiy Zavod, Narvskaya, Baltiyskaya, dan Tekhnologiceskiy Institut – 1, kami sampai di stasiun Pushkinskaya pindah jalur ungu menuju stasiun metro Admiralteyskaya. Setelah melewati 1 stasiun, yaitu Sadovaya, kami sampai di penginapan. Perjalanan dari metro Avtovo ke metro Admiralteyskaya ditempuh sekitar 22 menit.
Keluar stasiun metro Admiralteyskaya Belok kanan menyusuri jalan kecil, sampailah di EveRest Hostel, yang terletak di большая морская улица (Baca: Bolshaya Morskaya Ulitsa) Nomor 25.
Hostel EveRest hanya memiliki beberapa kamar, di setiap kamar berisi tempat tidur yang jumlah berbeda tergantung luas kamar. Kamar yang kami tempati berisi 2 tempat tidur bertingkat, sehingga cocok untuk 4 orang. Perhitungan harga sewa kamar juga bervariasi, ada yang dihitung per orang ada juga yang dihitung per kamar. Kamar yang kami tempati bertarif RUR 2 100 per malam. Fasilitas di dalam kamar, selain tempat tidur bertingkat, terdapat 1 lemari besar tanpa pintu. Handuk, kasur dan sarungnya, sprei, selimut, bantal dan sarung bantal, masing-masing mendapat 1 set.
Untuk tempat tidur, di setiap tempat tidur terdapat gorden untuk menjaga privasi, karena bisa saja setiap orang yang menginap dalam 1 kamar tidak saling mengenal sebelumnya.
Untuk kamar mandi dan toilet terletak di luar kamar dan digunakan secara bergantian dengan aturan setiap orang mendapat jatah maksimal 20 menit. Demikian pula ruang makan yang jadi satu dengan dapur, digunakan secara bersama-sama. Setiap orang boleh membeli makanan mentah untuk dimasak di hostel dan disimpan di kulkas yang disediakan oleh pemilik. Perlengkapan untuk memasak juga disediakan oleh pemilik hostel.


Lunch
Setelah melepas lelah sejenak dan menyimpan koper yang sejak dari Moscow selalu kami bawa, kami keluar untuk mencari makan. Setelah berjalan menyusuri jalan-jalan kecil akhirnya kami menemukan restoran siap saji, KFC. Berbeda dengan suasana di Indonesia, restoran atau rumah makan semacam KFC, Mc Donald, Pizza Hut, dan lain-lain yang dapat menghias atau mengecat bangunan sesuai ciri khas mereka. Di Russia, mereka hanya boleh menempelkan tulisan kecil di pintu atau di kaca gerai mereka, sehingga agak sulit untuk menemukan restoran atau gerai-gerai itu.
Karena gerainya kecil dan waktunya makan siang sehingga pengunjung penuh, kami putuskan untuk makan di hostel saja, sekalian sambil istirahat. Sampai di sini, anak kami yang cowok pamit untuk jalan dengan teman-temanya, sehingga kami tinggal bertiga.
Setelah sempat tertidur beberapa saat, kami putuskan untuk kembali berjalan menyusuri jalan-jalan di kota Saint Petersburg. Tujuan utama kami adalah jembatan yang bisa dibuka saat ada kapal lewat atau dikenal dengan nama Drawbridges.
Drawbridges
Drawbridges adalah jembatan yang dapat dibuka dan ditutup. Di kota Saint Petersburg sebenarnya terdapat beberapa jembatan, tetapi hanya satu yang dapat dibuka dan ditutup.
Tujuan utama kami adalah ingin melihat Drawbridges terbuka, tetapi ternyata Drawbridges hanya dibuka pada tengah malam atau tepatnya pukul 00.30. Walaupun keinginan untuk menunggu cukup tinggi, namun kami putuskan untuk kembali ke hostel dan beristirahat saja, karena badan rasanya masih capek. Kami hanya mengambil beberapa gambar di sekitar jembatan.
Dalam perjalanan kembali ke hostel, kami melewati salah satu museum dan gallery terbesar di Russia, yaitu эрмитаж. Kami berkeliling di sekitar museum dan mengambil beberapa gambar, kemudian kami mampir ke sebuah продукты (baca: Produktei) atau di Indonesia dikenal dengan mini market. Kami mencari makanan dan minuman untuk makan malam. Akhirnya sekitar pukul 22.00 kami sampai di hostel, sambil menunggu anak kami yang cowok kembali, kami mengobrol mendiskusikan tempat yang akan kami tuju esok hari. Sekitar pukul 23.00 anak kami datang, anak kami bercerita bahwa hampir saja kecopetan saat berjalan bersama teman-temannya tadi siang.
Beruntung sang pencopet hanya merogoh saku terluar dari tas punggung yang dibawanya yang memang kosong. Sesaat kemudian, tanpa terasa kami semua tertidur.
Bersambung ke Bagian 3

Kembali ke Bagian 1 

Moscow - Saint Petersburg (Semalam di Saint Petersburg Bagian 1)




Sesuai rencana, kami akan berkunjung ke kota St. Petersburg yang terletak sekitar 714 km sebelah utara kota Moscow. Moda transportasi yang kami pilih adalah kereta api dengan pertimbangan murah meriah. Pembelian tiket kereta api dapat dilakukan dengan berbagai cara; via internet, via mesin tiket yang ada di stasiun atau via loket yang juga terdapat di stasiun.
Melalui website http://dzvr.ru/en/, kita dapat memilih jenis kereta api berdasarkan waktu tempuh dan tentu saja berpengaruh pada harga tiket. Pilihan pertama adalah kereta cepat atau dikenal dengan сапсан (baca: sapsan) dengan waktu tempuh sekitar 4 jam dan pilihan kedua adalah kereta biasa dengan waktu tempuh sekitar 9 – 10 jam. Kami memutuskan untuk mengambil pilihan kedua, sehingga kami bisa menghemat biaya penginapan, karena bisa berangkat dari Moscow sore hari dan sampai di St. Petersburg pada pagi hari.
15 Juli 2016
Moscow – Saint Petersburg

Kereta api yang kami tumpangi akan berangkat dari Stasiun Kereta Api Leningradskiy atau dalam Bahasa Russia disebut ленинградский вокзал (baca: Leningradskiy Vokzal).

Pengertian stasiun dalam Bahasa Russia ada dua, yaitu станция (baca: Stantsiya) dan  вокзал (baca: Vokzal).  Stantsiya mengacu pada angkutan metro atau kereta bawah tanah, biasanya hanya untuk angkutan dalam kota. Sedangkan Vokzal mengacu pada angkutan kereta api untuk tujuan atau jalur antar kota.

Leningradskiy Vokzal atau dalam Bahasa Inggris disebut Leningradsky railway station adalah stasiun kereta api tertua dari 9 stasiun yang ada di Moscow. Leningradskiy Vokzal terletak di kawasan Komsomolskaya Square dan melayani kereta api arah barat laut, terutama ke kota Saint Petersburg.


Beberapa kali mengalami perubahan nama.

Stasiun Leningradskiy dibangun antara tahun 1844 dan 1851 pada masa kekaisaran Nicholas I dan awalnya bernama Peterburgskiy Vokzal, karena digunakan oleh kereta api jurusan Saint Petersburg. Setelah kematian kaisar lima tahun kemudian, nama Leningradskiy diganti menjadi Nikolayevskiy dan bertahan sampai tahun 1924. Untuk memperingati revolusi Oktober, nama Nikolayevsky diganti menjadi Oktyabrskiy. Nama Leningradskiy  diberikan setahun kemudian ketika kota Petrograd berubah menjadi Leningrad. Modernisasi dan renovasi interior terakhir dilakukan pada tahun 1950 dan 1972.

Kami berangkat dari apartemen yang terletak di калужская площадь (baca: Kaluzhskaya Plosyad) menggunakan Metro jalur coklat dari stasiun октябрьская (baca: Oktyaberskaya) menuju stasiun ленинградский вокзал.

Sesuai jadwal yang kami pilih, kereta api akan berangkat pukul 18.45. Waktu yang digunakan sebagai pedoman untuk seluruh kereta api di Russia adalah waktu Moscow, bukan waktu lokal.

Di dalam gerbong kereta api disekat menjadi beberapa ruangan. Masing-masing ruang berisi dua tempat tidur bertingkat, sehingga bisa menampung 4 orang di setiap ruangan. Setiap tempat tidur disertai dengan kasur (walaupun sebenarnya tempat tidurnya sudah empuk), duvet (semacam selimut tebal) dan bantal, masing dilengkapi sarung yang masih tersegel di dalam plastik. Namun ada yang masih kurang, terutama di saat musim panas seperti saat ini, yaitu AC, sehingga terpaksa buka jendela selama perjalanan. Selain itu, makanan juga tidak disediakan dan selama perjalanan kereta hanya berhenti dua kali di dua stasiun untuk pengecekan kondisi kereta, itupun tidak ada orang berjualan seperti di Indonesia.
Ternyata agak sulit tidur selama perjalanan, selain karena “guncangan” kereta juga disebabkan suasana musim panas di mana matahari baru terbenam sekitar pukul 9 malam dan sudah terbit sekitar pukul 3 pagi. Bisa dibayangkan apabila kita bepergian sendirian, berarti kita satu ruangan dengan orang-orang yang tidak kita kenal sebelumnya. Untungnya sekarang ada internet yang dapat diakses melalui HP, sehingga ada sedikit hiburan.
16 Juli 2016
Tiba di kota Saint Petersburg
Setelah menempuh perjalanan hampir 10 jam, 9 jam 58 menit tepatnya (18.45 – 04.43), kereta berhenti di московский вокзал (baca: Moskovskiy Vokzal). Moskovskiy Vokzal merupakan stasiun kereta api antar kota yang ada di kota Saint Petersburg. Nama Moskovskiy Vokzal menunjukkan bahwa stasiun ini adalah untuk kereta api tujuan kota Moscow.

Kota Saint Petersburg
Saint Petersburg atau dalam Bahasa Russia ditulis Санкт-Петербу́рг (baca: Sankt-Peterburg) adalah kota terbesar kedua di Russia setelah Moscow. Kota Saint Petersburg dibelah oleh sungai Neva dan terletak di tepi teluk Finlandia di laut Baltik.
Kota Saint Petersburg didirikan oleh Tsar Peter the Great pada 27 Mei 1703 dan sempat berganti nama menjadi Petrograd (Петрогра́д) pada tahun 1914 sebelum berubah menjadi Leningrad (Ленингра́д) pada tahun 1924. Namun kembali menjadi Saint Petersburg pada tahun 1991.
Antara tahun 1713–1728 and 1732–1918 menjadi ibu kota kekaisaran Russia sebelum pindah ke Moscow pada tahun 1918. Sebagai kota terbesar kedua setelah Moscow dengan jumlah penduduk mencapai lima juta orang (berdasarkan data tahun 2012), Saint Petersburg adalah kota pelabuhan penting bagi Russia di laut Baltik.
Saint Petersburg adalah the most Westernized city di Russia serta sebagai kota “utara” yang berpenduduk lebih dari satu juta orang. Banyak peninggalan sejarah yang telah diakui sebagai warisan dunia oleh UNESCO, termasuk “The Hermitage”, yaitu salah satu museum terbesar di dunia.

Breakfast
Kota Saint Petersburg adalah salah satu dari empat kota tujuan mahasiswa asal Kalimantan Timur, selain Moscow, Samara, dan Rostov. Para mahasiswa tersebut belajar di Russia atas biaya dari Pemerintah Kalimantan Timur dalam program Beasiswa Kaltim Cemerlang. Selain anak saya sendiri yang belajar di Moscow, hari ini kami janjian dengan salah seorang dari mereka yaitu Cencen. Cencen adalah salah satu mahasiwa Kalimantan Timur yang berasal dari Kota Balikpapan. Hari ini, Cencen akan menjadi “guide tour” kami. Sesuai kesepakatan, kami akan bertemu di Moskovskiy Vokzal sekitar pukul 08.00.
Sambil menunggu, kami mencari kafe dengan tujuan utama sebenarnya mau numpang nge-charge HP, Laptop dan Power Bank yang sudah sekarat digunakan semalaman di kereta. Setelah tengak-tengok dan keluar masuk beberapa kafe, maka pilihan jatuh di salah satu kafe yang di dalamnya terdapat dua “colokan” untuk nge-charge HP.
Sekitar pukul 08.00 datanglah “guide” kami dan setelah berbasa-basi sejenak, kami putuskan untuk mencari sarapan. Dari arah stasiun, di seberang jalan, terlihat sebuah столовая (Baca: Stolovaya), yang berarti kantin.
Menu sarapan di sini, tentu beda dengan di Indonesia, walaupun ada juga nasi, daging, ayam, telur, “sayuran”, dan lain-lain. Dengan model “prasmanan”, kita bebas memilih dengan menunjuk makanan yang kita kehendaki, kemudian diambilkan oleh seorang pelayan untuk ditimbang sebelum diserahkan ke kita. Kita bisa memilih lebih dari satu macam makanan dan minuman, ya mirip dengan yang ada di “HOKBEN” di Indonesia. Di ujung antrian ada seorang kasir yang menghitung harga makanan yang telah kita ambil, setelah membayar baru kita bawa ke meja untuk dimakan. Ya sesederhana itu, tapi kami harus ekstra hati-hari, terutama untuk makanan dengan bahan baku daging.
Hari itu, kami memilih telor ceplok, roti isi selai cokelat, roti isi daging, nasi goreng (flop), terong, bakwan dengan minum jus aneka buah.
Sambil menikmati menu sarapan dan diiringi hujan gerimis di luar, kami berdiskusi tentang tujuan kami hari ini. Karena penginapan baru siap pukul 14.00, kami putuskan mengunjungi salah satu obyek wisata yang cukup terkenal yang terletak di teluk Finlandia di tepi laut Baltik, yaitu Peterhof, tetapi di dalam abjad Russia tidak ada huruh “h”, maka jadilah Петергоф (baca: Petergof).
Bersambung ke Bagian 2

Monday, 6 June 2016

Ramadhan di Rusia



Marhaban Ya Ramadhan …
Ramadhan kali ini sedikit berbeda dengan Ramadhan sebelumnya bagi kami sekeluarga. Beberapa hari menjelang masuknya bulan Ramadhan, biasanya kami melihat kesibukan masyarakat menyiapkan lokasi untuk pasar Ramadhan. Pasar ini memang khusus untuk menjual aneka makanan dan minuman untuk berbuka puasa. Di sudut-sudut kota Samarinda, di tepian sungai Mahakam, bahkan di beberapa tempat sampai membuat kemacetan lalu lintas, tapi itulah suasana khas menyambut Ramadhan, semuanya senang, semuanya bergembira. Demikian pula di sepanjang jalan P. Suryanata dan tempat-tempat lain, penjual kembang api mulai menata dagangannya. Selain itu banyak pula masyarakat yang berziarah kubur. Di tempat-tempat pemakaman umum terlihat penjual bunga dan tukang parkir ikut menikmati rejeki dengan datangnya bulan Ramadhan.
Ramadhan tahun ini dikarenakan sejak Pebruari 2016 kami sekeluarga tinggal di Moskow, ya Moskow ibu kota Rusia, sehingga sangat terasa sekali perbedaannya. Sebagai negara yang dulunya tertutup, tentu tidak banyak yang diketahui, terutama oleh masyarakat Indonesia, tentang Rusia. Rusia, dulu Uni Sovyet, kini telah banyak berubah, banyak gereja dan masjid berdiri di Moskow. Namun, sama seperti negara maju lainnya di dunia, agama tidaklah menjadi urusan negara, sehingga tidak ada pengumuman resmi dari pemerintah terkait penentuan awal puasa seperti di Indonesia.
emikian juga gegap gempita menyambut Ramadhan seperti di awal tulisan ini, tentu tidak terlihat sama sekali di Moskow. Namun demikian, suasana menyambut Ramadhan sedikit terlihat di wilayah Sukolniki yang termasuk kota Moscow pinggiran. Masyarakat muslim Moskow mengadakan kegiatan yang bertajuk “7-я международная выставка, Moscow Halal Expo 2016”. Kegiatan ini juga diikuti oleh negara-negara yang penduduknya mayoritas memeluk agama Islam, ya mirip “Pasar Ramadhan di Samarinda. Selengkapnya bisa disimak di http://www.kompasiana.com/virays/mengintip-peyek-dan-tempe-di-expo-halal-ke-7-di-rusia_57538e407297739c0ec45759. Tulisan seorang teman guru dari Sekolah Indonesia Moskow yang sempat merekam kegiatan tersebut.
 
Sebenarnya puasa Ramadhan kali ini bukanlah puasa Ramadhan yang pertama kali kami jalani di luar negeri, kerena sekitar 14 tahun yang lalu kami juga melaksanakan puasa Ramadhan di Luar Negeri, yaitu di England UK. Hanya yang membedakan saat itu bulan Ramadhan jatuh pada musim dingin, sehingga siang hari lebih pendek dari pada malam hari, seperti yang terjadi di Australia tahun ini, sehingga bagi kami puasanya jadi cepat.
Ramadhan 1437 H, di belahan bumi utara jatuh pada musim panas 2016, di mana siang hari lebih panjang dari pada malam hari, dan mencapai puncaknya pada tanggal 20 – 22 Juni 2016. Pada tanggal-tanggal tersebut, di Moscow, subuh jatuh pada pukul 01.51 dini hari dan Maghrib jatuh pada pukul 21.19 malam hari. Sementara puasa terpanjang tahun ini terjadi di Kota Reykjavik, Islandia, di mana rentang puasa sekitar 22 jam dan puasa terpendek dialami penduduk di Kota Punta Aires, Chile, yaitu sekitar 9 jam saja.
Kegiatan belajar mengajar di Sekolah Indonesia Moskow (SIM) dilaksanakan seperti biasa, Menyambut Ramadhan siswa hanya diberi libur satu hari diawal, sedangkan untuk guru tetap masuk seperti biasa. Untuk jam kerja hanya berubah di jam masuk, yang biasanya pukul 09.00 menjadi pukul 10.00, sedangkan jam pulang tetap pukul 17.00 mengikuti jam kerja KBRI. Dengan pertimbangan efisiensi, maka SIM untuk tahun ini memutuskan tidak ada libur kenaikan kelas, sehingga setelah pembagian rapor tanggal 10 Juni 2016, maka senin tanggal 13 Juni 2016 merupakan hari pertama tahun pelajaran 2016/2017. Untuk libur kenaikan kelas ditetapkan tanggal 1 – 31 Juli 2016. Yang menariknya lagi awal puasa tahun ini dibarengi dengan kegiatan pembinaan akreditasi oleh tim dari Badan Akreditasi Nasional dari Jakarta 2 – 7 Juni 2016.
Minggu, 5 Juni 2016 merupakan kegiatan sholat tawarih pertama sekaligus sahur pertama Ramadhan 1437H. Putri kami sudah tidak sabar untuk mengikuti sholat tarawih pertama di Moskow yang sesuai jadwal akan dilaksanakan setelah sholat isya’ yang jatuh pada pukul 22.53 waktu Moskow. Beda dengan putra kami yang tahun ini merupakan tahun kedua menjalani puasa di musim panas, bagi putri kami ini adalah tahun pertamanya Ramadhan di musim panas. Setelah mengunjungi Moscow Halal Expo 2016, sekitar pukul 18.00 dia sudah sibuk mempersiapkan diri. Kami berencana untuk mengikuti sholat tarawih di musholla KBRI yang dijadwalkan pukul 22.00 dengan diawali “seremonial” pembuka seperti kultum. Tibalah waktu yang kami tunggu-tunggu, sekitar pukul 22.00 kami berangkat dari apartemen dengan berjalan kaki menuju stasiun metro (kereta bawah tanah), karena bukan malam weekend, suasana di taman dan jalanan menuju stasiun metro tampak sepi hanya ada 1 – 2 orang yang duduk-duduk di taman. Seperti biasa, kamu masuk ke stasiun metro dengan menggesek tiket metro yang kami beli secara berlangganan. Setelah beberapa menit, akhirnya datang juga metro yang kami tunggu. Tapi alangkah terkejutnya kami, karena ada pengumuman yang cukup panjang kemudian seluruh penumpang yang ada di dalam metro keluar semua berhamburan menuju pintu keluar. Di tengah kebingungan kami, ada seorang remaja mendekati kami dan berusaha menjelaskan apa yang terjadi, dengan menggunakan Bahasa “tarzan”, kami bisa menangkap maksudnya, yaitu metro untuk jalur orange ( jalur dari apartemen yang menuju KBRI yang biasa kami lalui ) sudah tidak beroperasi malam ini karena ada perbaikan rel. Bisa dilihat kekecewaan di wajah putri kami, karena tidak mungkin kami berjalan kaki ke KBRI selain karena sudah larut malam cuaca juga tidak mendukung dengan suhu 7 derajat Celsius. Akhirnya kami kembali ke apartemen. Kenapa kami menggunakan Bahasa “tarzan”, perlu diketahui bahwa Bahasa Inggris tidak popular di Rusia, hanya di tempat tertentu saja kita bisa berkomunikasi dengan Bahasa Inggris, bahkan petunjuk lokasi sangat jarang yang menggunakan dua Bahasa.
Akhirnya setelah sholat isya’, kami putuskan untuk tidur sebentar karena sahur jatuh pukul 02.03. Dengan memasang beberapa alarm, akhirnya kami bisa bangun pukul 01.30 untuk makan sahur dilanjutkan sholat subuh.
Senin, 6 Juni 2016 adalah hari pertama puasa di musim panas. Sebagai orang tua tentu kami sedikit khawatir dengan putri kami yang berusia 12 tahun dan harus berpuasa 19 jam lebih. Saya sendiri disibukan dengan kegiatan pembinaan akreditasi di sekolah. Saya pulang ke rumah, melihat putri kami tidur pulas tidak tega untuk membangunkan karena waktu masih menunjukkan pukul 18.00 masih sekitar 3 jam lagi berbuka. Akhirnya tibalah waktu berbuka hari pertama, tepat pukul 21.09. Alhamdulillah, kami mampu melewati hari pertama puasa di musim panas, terutama untuk putri kami. Semoga Allah swt menerima puasa kami hari ini dan hari-hari berikutnya. Ammiin.
Inilah sedikit pengalaman kami melalui hari pertama di Ramadhan tahun ini, yang berbeda dengan Ramadhan – Ramadhan tahun sebelumnya. Untuk diketahuai tahun ini Russia menempati peringkat kedua terlama puasa yang bila dirata rata puasanya mencapai 20 jam 23 menit setelah Iceland yang mencapai 21 jam 03 menit.

Tuesday, 26 April 2016

Saya ...

Nama saya Mushadi Iksan, sejak Februari 2016, saya mengajar Matematika di Sekolah Indonesia Moscow. SMP Negeri 14 Samarinda, SMP Negeri 1 Samarinda, dan SMA Negeri 10 Samarinda adalah sekolah-sekolah yang pernah menjadi bagian perjalanan karir saya sebagai guru. Universitas Airlangga, IKIP Negeri Surabaya, Universitas Mulawarman, dan University of Newcastle upon Tyne, UK adalah kampus-kampus yang pernah menempah saya.
Saya lahir di Surabaya pada tanggal 9 Januari 1972 dan saat ini tinggal di Moscow bersama istri (Atik Fifa Yanti), anak pertama (Airlangga Pratama Putra Miafy) yang saat ini sedang menempuh pendidikan di salah satu kampus di Moscow, dan anak kedua (Mutiara Tsabitah Putri Miafy) yang saat ini sedang duduk di kelas VII Sekolah Indonesia Moscow.